TERBARU
Home » Motivasi Beasiswa » MUHAMMAD HARIS MAHYUDDIN: “NGGAK HARUS NUNGGU LULUS BUAT MULAI CARI BEASISWA!”

MUHAMMAD HARIS MAHYUDDIN: “NGGAK HARUS NUNGGU LULUS BUAT MULAI CARI BEASISWA!”

Sumber: MOTIVASIBEASISWA.ORG

http://motivasibeasiswa.org/2013/02/08/muhammad-haris-mahyuddin-nggak-harus-nunggu-lulus-buat-mulai-cari-beasiswa/

Sekolah tinggi ke luar negeri apalagi mendapatkan beasiswa tidak pernah menjadi dambaan saya (setidaknya hingga saya menjadi mahasiswa tingkat tiga) karena saya dibesarkan di keluarga pedagang yang tidak terlalu memikirkan pendidikan super tinggi dan tidak pernah mewarisi DNA seorang “jenius”. Tapi alhamdulillah kehidupan saya selalu dipenuhi inspirasi dan motivasi khususnya dari ayah sang entrepreneur dan teknopreneur-teknopreneur Jepang seperti Akio Morita, Konosuke Matsushita, dan Tokuji Hayakawa, hingga akhirnya saya berhasil mengikuti program student exchange ke Osaka University tahun 2008 dengan beasiswa JASSO dari pemerintah Jepang dan melanjutkan sekolah S2 sekolah ke Tohoku University tahun 2009 dengan beasiswa Monbusho (Monbukagakusho). Dan segera setelah lulus, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan sebagai engineer di sebuah perusahaan elektronik di Jepang.

6849339322_61a0acecc3

Keberangkatan saya ke Jepang bermula saat tahun ketiga kuliah S1. Saat itu saya merasa sedikit tidak puas dengan materi kuliah atau eksperimen mengenai materials science dan nanotechnology yang diajarkan karena jumlahnya sangat sedikit. Sejak saat itu muncullah keinginan untuk lanjut sekolah S2. Di tahun yang sama, entah memang sudah takdir sepertinya, saya mulai suka belajar bahasa Jepang, suka nonton dorama (drama) Jepang, dan kebetulan mendengar salah seorang senior saya yang berhasil mendapatkan beasiswa Monbusho. Mengetahui bahwa Jepang sangat kuat dalam materials science dan nanotechnology dan ada senior yang bisa saya mintai saran-sarannya, tanpa pikir panjang seketika itu juga saya putuskan “Yosh… beasiswa Monbusho dan Jepang adalah target saya berikutnya”. Walaupun masih ada dua tahun sebelum lulus, saya sudah mulai mencari informasi universitas Jepang di internet, mengkontak beberapa professor di Jepang, mencari informasi beasiswa di website kedubes Jepang, informasi dari senior-senior, ikut sekolah bahasa Inggris khusus untuk TOEFL, ikut sekolah bahasa Jepang, sampai berusaha menaikan nilai IPK supaya bisa bersaing dan tidak terlalu memalukan ketika submit form pendaftaran beasiswa.

Belum selesai urusan beasiswa Monbusho, awal tahun keempat saya mendapatkan kesempatan mendaftarkan diri ke program student exchange di Osaka University sambil terus melakukan persiapan untuk daftar beasiswa Monbusho. Tahun yang sangat berat, tertatih-tatih menyelesaikan skripsi sambil mendaftarkan diri ke dua program beasiswa sekaligus. Menjelang sidang skripsi, saya mendapatkan kabar gembira bahwa saya diterima di program exchange tersebut. Mungkin ada yang berfikir “aneh, sudah mau lulus tapi kok baru akan berangkat exchange”. Tapi begitulah kenyataannya, sehingga saya harus menunda wisuda saya hingga program exchange selesai dan kembali ke Indonesia.

Saya merasa sangat bersyukur karena keputusan saya berangkat exchange ke Osaka University ini telah membantu memperdalam ilmu pengetahuan saya sebagai persiapan menuju S2 dan telah membantu keberhasilan saya meraih beasiswa Monbusho karena saat wawancara saya ditanya tentang pengalaman sekolah ke Jepang. Pada saat wawancara beasiswa Monbusho saya memang belum berangkat ke Osaka tapi saat itu sudah ada kepastian akan berangkat ke Osaka University selama 6 bulan. Sebelum berangkat ke Osaka, semua proses seleksi beasiswa Monbusho sudah selesai tinggal menunggu hasil. Pengumuman hasil akhirnya saya terima ketika saya sedang berada di Osaka melalui telepon. Satu bulan setelah kembali ke Indonesia dari Osaka dan kemudian mengikuti wisuda S1, saya berangkat lagi ke Jepang. Kali ini ke Tohoku University di utara Jepang untuk mengikuti program bahasa Jepang yang disusul program S2 jika lulus ujian masuk.

OK, sekarang mari kita telaah apa sih yang sebenarnya para pemberi beasiswa inginkan dari kita ketika kita mendaftarkan diri sebagai calon peraih beasiswa? Khususnya untuk beasiswa Monbusho program graduate school ke Jepang, kita lihat kenapa non-English-speaking country seperti Jepang mengharuskan nilai TOEFL yang cukup tinggi, tapi tidak mengharuskan memiliki IPK yang sangat tinggi dan kenapa mahasiswa S1 yang belum lulus bahkan belum fresh from oven but still in oven harus nulis proposal riset (boro-boro riset, kuliah aja blom kelar). Kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa pemberi beasiswa (Monbusho) menginginkan orang-orang yang tidak hanya berpotensi secara akademik tapi juga yang pandai dalam mengkomunikasikan ide-ide penelitiannya dalam bahasa Inggris. Maka, syarat IPK dan TOEFL adalah harga mutlak yang harus dihormati dan dipatuhi. Selebihnya, hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan daya saing kita supaya terlihat menonjol di antara calon peraih beasiswa lain adalah kemampuan menulis karena pekerjaan mahasiswa di program graduate school tidak lain adalah menulis scientific paper atau paling tidak thesis report. Jika sampai tahap ini berhasil dilakukan dengan baik, seleksi pertama (seleksi dokumen) insyaAllah aman.

Seleksi berikutnya adalah ujian bahasa dan wawancara. Untuk ujian bahasa saya tidak punya tips khusus, just study hard and do your best. Untuk wawancara, ada beberapa tips yang bisa saya share yaitu

  1. Membuat slide presentasi sederhana yang kemudian diprint untuk dibawa dan dipresentasikan saat wawancara, dan
  2. Membuat daftar pertanyaan yang mungkin keluar saat wawancara dan kemudian dijawab sendiri dan dihafal poin-poinnya.

Poin pertama, selain untuk menunjukkan keseriusan kamu, membuat slide presentasi akan membantu kamu dalam memetakan apa yang sebenernya ingin kamu teliti di Jepang nanti. Poin kedua, terkadang kita tidak bisa berpikir jernih dihadapan para pewawancara karena gugup dll. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika kita sudah mengerti poin-poin penting apa saja yang mesti diucapkan saat suatu pertanyaan muncul.

Berikut adalah beberapa tips tambahan yang bisa saya share untuk teman-teman yang sedang berburu beasiswa sekolah khususnya ke luar negeri.

1.  Go to a war that you can win

Pilihlah negara tujuan yang memang kuat di bidang ilmu yang hendak kamu pelajari. Di negara yang kuat dalam bidangnya, dana riset/beasiswa dan jumlah peneliti/mahasiswa yang diperlukan jelas lebih banyak meskipun saingannya pun akan lebih banyak juga.

Naiki anak tangga satu per satu. Jika kamu sagat ingin belajar ke MIT di US tapi IPK dan kualifikasi kamu tidak terlalu tinggi, mulailah cari beasiswa sekolah ke negara tetangga yang lebih maju daripada Indonesia sebagai batu loncatan.

Tingkatkan kualifikasi kamu dan jadilah orang yang berbeda. Terkadang ada banyak kasus dimana kita dan saingan kita memiliki kemampuan dan kualifikasi yang sama, sehingga sulit untuk menentukan siapa yang lebih layak mendapatkan beasiswa. Di saat seperti inilah kamu harus punya senjata pamungkas yang kebanyakan orang tidak punya seperti kemampuan mengkomunikasikan betap penting dan gentingnya riset yang akan kamu lakukan, kemampuan leadership, berbicara dalam beberapa bahasa asing, menari tarian daerah, dll.

2.  Fokus

Jika kita sudah memutuskan suatu tujuan, fokus dan yakinlah pada satu atau maksimal dua program beasiswa saja karena jika ingin sukses mendapatkan beasiswa kita perlu banyak waktu, uang dan tenaga untuk membuat perencanaan dan pelaksanaan yang matang. Dengan memusatkan tenaga dan pikiran, kamu akan banyak menemukan celah dan cara untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

3.  Perbanyak teman seperjuangan

Yang namanya motivasi tuh ada kalanya naik, ada kalanya turun. Nah, supaya gak terus-terusan turun, bergaulah dengan temn-teman yang sedang berburu beasiswa juga. Dengan berdiskusi setiap hari tentang beasiswa dengan teman-teman seperjuangan, kamu bisa curhat, bisa dapat lebih banyak informasi dan saran, dan lebih bersemangat.

4.  Masuk kolam dulu baru belajar

Selama menjalani letihnya perjuangan akan ada satu atau dua kekhawatiran yang sangat mungkin muncul dari keluarga atau teman seperti “Seriusan lo mo sekolah ke amrik? Kesampean ga otak lo?” atau “Nak, nanti kamu hidup sendirian di negeri jauh. Klo ada apa-apa siapa yang mau nolong kamu?”. Jangan sampai hal-hal seperti itu, hal-hal yang belum jelas terjadinya, menghambat kamu untuk meraih beasiswa dan belajar ke luar negeri. Jika kamu tidak pernah masuk kolam renang, kamu gak akan pernah merasakan betapa dingin tapi juga senangnya bisa berenang di dalam kolam. Tapi jangan nekat ya, tetap harus ukur diri

5. Banyak minta tolong kepada Tuhan, minta restu orang tua, dan minta rekomendasi dosen

Mintalah petunjuk kepada Yang Maha Berkuasa mentakdirkan kita meraih beasiswa supaya diberikan jalan yang terbaik, yang mulus sedikit hambatan. Mintalah restu orang tua karena bagaimana pun orang tua adalah salah satu alasan keberadaan kita di dunia dan orang yang akan men-support moril dan keuangan kita untuk ikut tes TOEFL dll. Mintalah surat rekomendasi dari dosen/professor karena beasiswa sekolah berhubungan dengan akademik dan professor adalah orang yang paling berpengaruh di institusi akademik sehingga rekomendasi beliau bukanlah hal yang sepele.